Bahasa Indonesia

July 9, 2019

Resisten Pada Pembangunan (?)

Dalam satu dekade belakangan kota-kota di Yogyakarta kian menunjukkan kesamaan orientasi ekonomi. Kasus yang terbaru adalah Bantul. Bantul yang selama ini menjadi simbol perlawanan dengan  menolak pembangunan mall serta waralaba kini tergoda dan berencana untuk membangunnya. Dengan melihat peningkatan pertumbuhan ekonomi di Sleman dan Kota Yogyakarta, Bantul ingin mengambil keuntungan dengan menempuh jalan yang sama.

Di sini, pandangan untuk membuka diri semacam ini dinilai lumrah. Bahkan ada pula yang memandang “harus” sebagai konsekuensi atas modernitas. Fakta ini tidak saja menunjukkan sikap inkonsistensi Bantul melainkan pula ketidakmampuan –atau bahkan ketidakmauan- dalam menangkap gejala negatif karena pembangunan itu sendiri. Tentu tak sedikit pihak yang menyatakan penyesalan atas kebijakan ini. Lantas pertanyaannya apakah ini berarti masyarakat resisten terhadap pembangunan?

Perlu dipahami bahwa masyarakat tak pernah menolak pembangunan. Meski pendidikan sebagian besar mereka –mohon maaf- sangat minim tetapi kesadaran untuk membangun daerah sangat tinggi. Pembangunan, di mata mereka, adalah instrumen penting untuk menguatkan daerah yang pada gilirannya akan mendistribusikan kesejahteraan bagi masyarakat.

Pembangunan mall menegaskan bahwa Bantul mengejar capaian perumbuhan ekonomi. Sementara publik secara kolektif tengah berupaya agar ekonomi berbelok ke arah pemerataan ekonomi. Karena itu mereka menggeluti sektor UKM yang secara tak langsung turut menumbuhkan usaha-usaha yang terkait UKM pula. Hal ini adalah wujud upaya konkret mereka untuk membangun daerah. Kendati sektor ini tidak memiliki modal besar tapi tak boleh dianggap sebelah mata.

Tentang hal ini Purwanto (2007) menyebutkan “krisis ekonomi membuktikan bahwa industri kecil memiliki ketahanan yang kuat dibanding dengan industri besar (Sandee, 2000). Selama krisis terjadi banyak industri besar yang gulung tikar, akan tetapi banyak industri kecil yang bertahan atau justru bermunculan setelah krisis. M. Tambunan (2004) menjelaskan bahwa UKM memiliki ketahanan yang lebih baik dibandingkan usaha besar karena UKM lebih fleksibel dalam menghadapi gonjangan dibanding dengan industri besar. Fleksibilitas ini tidak bisa dilepaskan dari karakteristik UKM di mana usaha ini tidak memerlukan modal yang besar menggunakan bahan baku lokal yang murah, menggunakan tenaga kerja rumah tangga, menjual produk mereka untuk pasar”.

Lebih lanjut Purwanto menyatakan bahwa UKM tidak akan berpotensi membunuh perekonomian daerah itu. Sebaliknya UKM akan mereduksi kemiskinan. Peran UKM di D.I Yogyakarta misalnya berperan besar bagi perekonomian daerah. Jangan dilupakan kenyataan bahwa UKM sangat fleksibel terhadap krisis ekonomi yang melanda indonesia tahun 1997. Hal ini berarti daya tahan UKM terhadap krisis sangat besar.

Pada riset yang saya lakukan di tahun 2013 tentang kebangkitan ekonomi pasca gempa bumi di Bantul, UKM –sekali lagi- menunjukkan sikap fleksibilitasnya. Banyak sektor ekonomi yang lumpuh karena hantaman gempa bumi. Akan tetapi sektor UKM justeru lebih cepat pulih karena tak membutuhkan modal besar –sekitar Rp. 100.000-Rp. 200.000.

Siapapun yang memiliki akal sehat akan mengembangkan ekonomi kerakyatan yang secara konkret menjadi jawaban atas berbagai krisis. Paling tidak menanggalkan pembangunan mal yang berpotensi besar memutus rantai perekonomian masyarakat. Dan di sini bolehlah kita menilai bahwa perencanaan pembangunan mal tidaklah logis dan merupakan hasil pemikiran spekulatif belaka.  Orientasi pada pertumbuhan ekonomi, seperti yang dilakukan Bantul, yang mengasumsikan munculnya trickle down effect secara historis ternyata banyak mengalami kegagalan.

Di sisi lain ada aspek yang tak kalah penting. Bukan tak mungkin pembangunan mall ini akan diikuti pula oleh pembangunan Hotel dan Apartemen secara eksesif. Sebab gerak pembangunan hunian kian mengarah ke daerah Bantul. Dan dengan maraknya promosi pariwisata di D.I. Yogyakarta serta kenyataan bahwa hotel dan apartemen dapat menggenjot pertumbuhan ekonomi, kekhawatiran ini kiranya menjadi berdasar.

Perubahan iklim yang tidak menentu dan ancaman kerusakan ekologis oleh pembangunan semacam ini kian nyata. Boleh jadi dalam jangka waktu tertentu Bantul akan dikepung banjir seperti yang kini dirasakan di Sleman.

Apa yang dilakukan masyarakat adalah bentuk pelestarian keseimbangan alam dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan melalui kedaulatan ekonomi dan ruang. Masyarakat menentang pembangunan destruktif.

July 8, 2019

Ghazali dan Problem Intelektual Kita Hari Ini

Imam Ghazali barang kali hanya satu dari sekian banyak contoh ulama yang membuktikan bahwa kita tak perlu egois dan angkuh untuk mengakui adanya pengaruh orang lain dalam hal intelektual. Intelektual adalah ibarat rumah yang -meminjam istilah Edward Said- memiliki banyak jendela dan bisa dimasuki oleh siapa saja dengan latar belakang agama, suku, warna kulit tanpa ada klaim “Kamilah pemilik ilmu pengetahuan!”. Ghazali sangat menentang sikap pongah ini karena tentu saja ia selalu melakukan kritik diri (lebih dulu pada dirinya) yang baik secara langsung ataupun tidak pada akhir kritik itu akan memantul kepada seluruh manusia. Berlaku untuk kita hari ini yang mereproduksi klaim pengakuan pengetahuan hanya milik kampus, madrasah, gereja, lembaga penelitian, atau bahkan swasta. Garis besarnya jelas, bahwa intelektual harus diletakkan pada tujuan aslinya: menggugat kezaliman. Sisi inilah yang membuatnya begitu dikagumi oleh jutaan manusia di seluruh bumi, terentang waktu selama 9 abad lamanya sejak Ghazali wafat.

Mengapa usia kritik Imam Ghazali begitu panjang dan menyesakkan dada manusia modern dan fakir seperti kita hari ini? Kita selama ini menilai secara keliru bahwa Imam Ghazali adalah hanya sebagai ulama, hamba Allah yang taat, seorang muslim yang menjaga dengan ketat doktrin-doktrin Islam, dan segala predikat lainnya yang menjauhkannya dari kumparan ilmu pengetahuan.

Sebaliknya, Imam Ghazali adalah seorang ulama yang dahaga ilmu pengetahuan. Baginya ilmu pengetahuan adalah proses panjang yang menuntut kesetiaan dan sikap yang tegas. Hal itu telah menubuh dalam diri Imam Ghazi dan dibuktikan dengan upaya Imam Ghazali sendiri dalam mencari ilmu pengetahuan ke berbagai negara hingga ia harus menanggung beban dikucilkan dari lingkungan akademik di universitas di mana ia mengajar karena kritik pada para intelektual dan pemerintah yang tak mengenal lelah.

Bagi Imam Ghazali bukanlah ilmu pengetahuan jika ia tidak memiliki rangkaian, proses dan penahapan yang panjang dan melelahkan (bahkan menderita) sehingga ia benar-benar menjadi intelektual yang ideal dan pantas memegang obor ilmu pengetahuan. Penahapan ini tidak saja menuntut seseorang untuk menapaki proses pendidikan seperti madrasah (berkembang di era Imam Ghazali sendiri) tetapi juga mampu berpikir mandiri dan lalu bertindak atas dasar nilai-nilai profetikDari tiga tahap ini saja kita sering gagal menyelesaikan tangga pertama.

Sementara Imam Ghazali sudah menyusuri ketiga tangga ini dan mengulangnya terus menerus dari awal hingga akhir, sehingga tanpa sadar ini sudah menjadi lingkaran bulat. Ilmu pengetahuan dalam diri Imam Ghazali adalah harmoni, utuh dan tidak mengalami retakan. Seolah-olah, dengan semua gejolak yang ia rasakan, Imam Ghazali ingin mengatakan “Proses ini mutlak dan tak bisa ditawar. Tidak bisa diinterupsi!”

Dari sinilah kita bisa memahami ketika banyak orang mempertanyakan mengapa Imam Ghazali mengkritik intelektual (hakim, ulama, ahli-ahli di bidang pengetahuan lainnya) maka jawabannya adalah sebuah pertanyaan, mengapa banyak intelektual yang terlempar dari tujuan dan proses ilmu pengetahuan? Mengapa banyak intelektual yang lalim terhadap penderitaan umat dan memilih berlindung di balik jubah sang raja?Dengan kata lain, Imam Ghazali sangat cerdas dan berpengalaman untuk tahu persoalan intelektual di masanya dan persoalan intelektual kita hari ini. Kritik yang dia lontarkan bukan sekadar gugatan atas kekecewaan pada intelektual palsu (istilah saya sendiri) melainkan upaya menarik Islam dari tangan-tangan mereka. Seorang guru yang sangat takut pada lemahnya pikiran menjelaskan kepada saya bahwa “Inilah salah satu sebab yang membuat Imam Ghazali menjadi rujukan dari manhaj Ahlussunah Wa al-jamaah an-Nahdliyah”

*Oleh: Ahmad Fadli Azami

**Tulisan ini adalah refleksi kecil-kecilan saya setelah membaca biografi dan peran Imam Ghazali