Ghazali dan Problem Intelektual Kita Hari Ini

29 views

Imam Ghazali barang kali hanya satu dari sekian banyak contoh ulama yang membuktikan bahwa kita tak perlu egois dan angkuh untuk mengakui adanya pengaruh orang lain dalam hal intelektual. Intelektual adalah ibarat rumah yang -meminjam istilah Edward Said- memiliki banyak jendela dan bisa dimasuki oleh siapa saja dengan latar belakang agama, suku, warna kulit tanpa ada klaim “Kamilah pemilik ilmu pengetahuan!”. Ghazali sangat menentang sikap pongah ini karena tentu saja ia selalu melakukan kritik diri (lebih dulu pada dirinya) yang baik secara langsung ataupun tidak pada akhir kritik itu akan memantul kepada seluruh manusia. Berlaku untuk kita hari ini yang mereproduksi klaim pengakuan pengetahuan hanya milik kampus, madrasah, gereja, lembaga penelitian, atau bahkan swasta. Garis besarnya jelas, bahwa intelektual harus diletakkan pada tujuan aslinya: menggugat kezaliman. Sisi inilah yang membuatnya begitu dikagumi oleh jutaan manusia di seluruh bumi, terentang waktu selama 9 abad lamanya sejak Ghazali wafat.

Mengapa usia kritik Imam Ghazali begitu panjang dan menyesakkan dada manusia modern dan fakir seperti kita hari ini? Kita selama ini menilai secara keliru bahwa Imam Ghazali adalah hanya sebagai ulama, hamba Allah yang taat, seorang muslim yang menjaga dengan ketat doktrin-doktrin Islam, dan segala predikat lainnya yang menjauhkannya dari kumparan ilmu pengetahuan.

Sebaliknya, Imam Ghazali adalah seorang ulama yang dahaga ilmu pengetahuan. Baginya ilmu pengetahuan adalah proses panjang yang menuntut kesetiaan dan sikap yang tegas. Hal itu telah menubuh dalam diri Imam Ghazi dan dibuktikan dengan upaya Imam Ghazali sendiri dalam mencari ilmu pengetahuan ke berbagai negara hingga ia harus menanggung beban dikucilkan dari lingkungan akademik di universitas di mana ia mengajar karena kritik pada para intelektual dan pemerintah yang tak mengenal lelah.

Bagi Imam Ghazali bukanlah ilmu pengetahuan jika ia tidak memiliki rangkaian, proses dan penahapan yang panjang dan melelahkan (bahkan menderita) sehingga ia benar-benar menjadi intelektual yang ideal dan pantas memegang obor ilmu pengetahuan. Penahapan ini tidak saja menuntut seseorang untuk menapaki proses pendidikan seperti madrasah (berkembang di era Imam Ghazali sendiri) tetapi juga mampu berpikir mandiri dan lalu bertindak atas dasar nilai-nilai profetikDari tiga tahap ini saja kita sering gagal menyelesaikan tangga pertama.

Sementara Imam Ghazali sudah menyusuri ketiga tangga ini dan mengulangnya terus menerus dari awal hingga akhir, sehingga tanpa sadar ini sudah menjadi lingkaran bulat. Ilmu pengetahuan dalam diri Imam Ghazali adalah harmoni, utuh dan tidak mengalami retakan. Seolah-olah, dengan semua gejolak yang ia rasakan, Imam Ghazali ingin mengatakan “Proses ini mutlak dan tak bisa ditawar. Tidak bisa diinterupsi!”

Dari sinilah kita bisa memahami ketika banyak orang mempertanyakan mengapa Imam Ghazali mengkritik intelektual (hakim, ulama, ahli-ahli di bidang pengetahuan lainnya) maka jawabannya adalah sebuah pertanyaan, mengapa banyak intelektual yang terlempar dari tujuan dan proses ilmu pengetahuan? Mengapa banyak intelektual yang lalim terhadap penderitaan umat dan memilih berlindung di balik jubah sang raja?Dengan kata lain, Imam Ghazali sangat cerdas dan berpengalaman untuk tahu persoalan intelektual di masanya dan persoalan intelektual kita hari ini. Kritik yang dia lontarkan bukan sekadar gugatan atas kekecewaan pada intelektual palsu (istilah saya sendiri) melainkan upaya menarik Islam dari tangan-tangan mereka. Seorang guru yang sangat takut pada lemahnya pikiran menjelaskan kepada saya bahwa “Inilah salah satu sebab yang membuat Imam Ghazali menjadi rujukan dari manhaj Ahlussunah Wa al-jamaah an-Nahdliyah”

*Oleh: Ahmad Fadli Azami

**Tulisan ini adalah refleksi kecil-kecilan saya setelah membaca biografi dan peran Imam Ghazali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *