Resisten Pada Pembangunan (?)

5 views

Dalam satu dekade belakangan kota-kota di Yogyakarta kian menunjukkan kesamaan orientasi ekonomi. Kasus yang terbaru adalah Bantul. Bantul yang selama ini menjadi simbol perlawanan dengan  menolak pembangunan mall serta waralaba kini tergoda dan berencana untuk membangunnya. Dengan melihat peningkatan pertumbuhan ekonomi di Sleman dan Kota Yogyakarta, Bantul ingin mengambil keuntungan dengan menempuh jalan yang sama.

Di sini, pandangan untuk membuka diri semacam ini dinilai lumrah. Bahkan ada pula yang memandang “harus” sebagai konsekuensi atas modernitas. Fakta ini tidak saja menunjukkan sikap inkonsistensi Bantul melainkan pula ketidakmampuan –atau bahkan ketidakmauan- dalam menangkap gejala negatif karena pembangunan itu sendiri. Tentu tak sedikit pihak yang menyatakan penyesalan atas kebijakan ini. Lantas pertanyaannya apakah ini berarti masyarakat resisten terhadap pembangunan?

Perlu dipahami bahwa masyarakat tak pernah menolak pembangunan. Meski pendidikan sebagian besar mereka –mohon maaf- sangat minim tetapi kesadaran untuk membangun daerah sangat tinggi. Pembangunan, di mata mereka, adalah instrumen penting untuk menguatkan daerah yang pada gilirannya akan mendistribusikan kesejahteraan bagi masyarakat.

Pembangunan mall menegaskan bahwa Bantul mengejar capaian perumbuhan ekonomi. Sementara publik secara kolektif tengah berupaya agar ekonomi berbelok ke arah pemerataan ekonomi. Karena itu mereka menggeluti sektor UKM yang secara tak langsung turut menumbuhkan usaha-usaha yang terkait UKM pula. Hal ini adalah wujud upaya konkret mereka untuk membangun daerah. Kendati sektor ini tidak memiliki modal besar tapi tak boleh dianggap sebelah mata.

Tentang hal ini Purwanto (2007) menyebutkan “krisis ekonomi membuktikan bahwa industri kecil memiliki ketahanan yang kuat dibanding dengan industri besar (Sandee, 2000). Selama krisis terjadi banyak industri besar yang gulung tikar, akan tetapi banyak industri kecil yang bertahan atau justru bermunculan setelah krisis. M. Tambunan (2004) menjelaskan bahwa UKM memiliki ketahanan yang lebih baik dibandingkan usaha besar karena UKM lebih fleksibel dalam menghadapi gonjangan dibanding dengan industri besar. Fleksibilitas ini tidak bisa dilepaskan dari karakteristik UKM di mana usaha ini tidak memerlukan modal yang besar menggunakan bahan baku lokal yang murah, menggunakan tenaga kerja rumah tangga, menjual produk mereka untuk pasar”.

Lebih lanjut Purwanto menyatakan bahwa UKM tidak akan berpotensi membunuh perekonomian daerah itu. Sebaliknya UKM akan mereduksi kemiskinan. Peran UKM di D.I Yogyakarta misalnya berperan besar bagi perekonomian daerah. Jangan dilupakan kenyataan bahwa UKM sangat fleksibel terhadap krisis ekonomi yang melanda indonesia tahun 1997. Hal ini berarti daya tahan UKM terhadap krisis sangat besar.

Pada riset yang saya lakukan di tahun 2013 tentang kebangkitan ekonomi pasca gempa bumi di Bantul, UKM –sekali lagi- menunjukkan sikap fleksibilitasnya. Banyak sektor ekonomi yang lumpuh karena hantaman gempa bumi. Akan tetapi sektor UKM justeru lebih cepat pulih karena tak membutuhkan modal besar –sekitar Rp. 100.000-Rp. 200.000.

Siapapun yang memiliki akal sehat akan mengembangkan ekonomi kerakyatan yang secara konkret menjadi jawaban atas berbagai krisis. Paling tidak menanggalkan pembangunan mal yang berpotensi besar memutus rantai perekonomian masyarakat. Dan di sini bolehlah kita menilai bahwa perencanaan pembangunan mal tidaklah logis dan merupakan hasil pemikiran spekulatif belaka.  Orientasi pada pertumbuhan ekonomi, seperti yang dilakukan Bantul, yang mengasumsikan munculnya trickle down effect secara historis ternyata banyak mengalami kegagalan.

Di sisi lain ada aspek yang tak kalah penting. Bukan tak mungkin pembangunan mall ini akan diikuti pula oleh pembangunan Hotel dan Apartemen secara eksesif. Sebab gerak pembangunan hunian kian mengarah ke daerah Bantul. Dan dengan maraknya promosi pariwisata di D.I. Yogyakarta serta kenyataan bahwa hotel dan apartemen dapat menggenjot pertumbuhan ekonomi, kekhawatiran ini kiranya menjadi berdasar.

Perubahan iklim yang tidak menentu dan ancaman kerusakan ekologis oleh pembangunan semacam ini kian nyata. Boleh jadi dalam jangka waktu tertentu Bantul akan dikepung banjir seperti yang kini dirasakan di Sleman.

Apa yang dilakukan masyarakat adalah bentuk pelestarian keseimbangan alam dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan melalui kedaulatan ekonomi dan ruang. Masyarakat menentang pembangunan destruktif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *